Jejak Ahmad Syaikhu (2), Membangun Peradaban

Berbagai kalangan yang mengenal Ahmad Syaikhu, terutama kalangan ulama dan para santri, punya pendapat yang serupa soal kepemimpinannya yakni;  seorang prototype pemimpin yang sangat layak digugu dan ditiru, apalagi ditengah gerusan pola hidup yang semakin hendonis seperti sekarang ini.

Dalam soal syiar, Ahmad Syaikhu  tak pernah surut langkah mendakwahkan nilai-nilai kebenaran.

Dakwah-dakwahnya penuh kelembutan, persuasif, bersih dan juga sangat berhati-hati.  Berhati-hati, agar tak menyinggung salah satu golongan yang ada di tengah masyarakat.

Sebagai pendakwah, Ahmad Syaikhu  tidak hanya berdakwah di kalangan eksekutif maupun legislatif, tapi ke semua kalangan, hingga ke berbagai pelosok; ada yang dilakukan sendiri, ada yang dengan cara membangunkan sistem dan jejaring dakwah.

Pun setelah diberi amana menjadi pejabat publik (wakil walikota), iai tetap menggenggam  ruh keislaman, yang dibalut dengan tradisi kepemimpinan lokal (Betawi,Jawa dan Sunda).

Gaya kepemimpinan Ahmad Syaikhu  adalah gabungan gaya kepemimpinan Rasulullah saw dengan corak kepemimpinan memperhatikan kearifan lokal yang menjadikannya  seorang pemimpin yang mentransenden  dan membumi.

Dalam konteks kepemimpinan seperti inilah Ahmad Syaikhu  meluaskan syiar dan muamalahnya hingga ke hampir seluruh wilayah Jawa Barat. Pada mulanya tak banyak orang tahu karena sonder propaganda, tapi pada akhirnya tersebar meluas sebab masyarakat tak kuasa mengunci mulut bila terkait kebaikan dan ketauladanan. 

Berbagai kalangan memprediksi bahwa suatu saat kelak Ahmad Syaikhu akan menjadi pemimpin besar yang jarang ditemui dalam sejarah. Sebab ia berbeda dengan para politisi atau pejabat publik pada umumnya yang cenderung  mewariskan harta benda untuk anak cucu dan keturunnya. Ahmad Syaikhu mewariskan ajaran, nilai-nilai dan peradaban untuk keturunannya dan untuk para sahabat dekat dan kerabat.

Setidaknya, nilai-nilai yang diwariskan Ahmad Syaikhu dapat  digolongkan dalam empat aspek; (1). Nilai-nilai yang berkaitan dengan ketakwaan dan keimanan, (2). Nilai-nilai  yang berkaitan dengan kedisiplinan, (3). Nilai-nilai  yang menyangkut kearifan dan kebijaksanaan, (4). Nilai-nilai yang berkaitan dengan sopan santun dan tatakrama (adab).

Dalam kapasitasnya sebagai pejabat public maupun selaku ustadz, Ahmad Syaikhu memilih sikap terbuka dan tak pernah menganggap dirinya paling suci, paling ahli surga, dan   paling benar serta orang lain sebaliknya. Sikap ini sulit kita temui di zaman sekarang, dimana berbagai golongan dan kelompok acapkali mengklaim dirinya  paling benar, paling suci dan paling ahli surga.

Ahmad Syaikhu  juga seorang yang lembah lembut, penyabar, penuh wibawa dan arif bijaksana.  Hal ini, antara lain merupakan pengakuan dan kesaksian hampir seluruh kalangan dilingkungan Pemerintah Kota Bekasi. Pengakuan serupa pun akan terlontar bila dikonfirmasikan kepada warga Kota Bekasi. 

Dalam kapasitasnya sebagai politisi, ia jauh dari sikap agresor .” Perbedaan pilihan dan kendaraan politik adalah sunatullah, jangan sesekali posisikan mereka sebagai lawan atau musuh, tapi partner yang memberdayakan guna secara bersama-sama menata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara menjadi lebih baik dari waktu-ke waktu,” kata Ahmad Syaikhu.

Dalam kapasitasnya sebagai politisi, Ahmad Syaiku juga tetap menjunjung akhlak dan etika, sebab itu  tak mau menceburkan diri ke dalam konflik  yang tak perlu. Alasannya,  jika ia mensitakan diri dalam konflik, apalagi korupsi, maka akan mencederai nawaitu-nya bahwa menjadi politisi maupun pejabat publik  semata-mata hanya sebagai ladang ibadah kepada Allah SWT.

Sebab itu, tidak terlalu berlebihan bila banyak kalangan memprediksi bahwa Ahmad Syaikhu akan berhasil menjadi sosok nyata yang sangat berkontribusi bagi perkembangan sejarah bangsa dan negara, dan sosok yang nyata dan melakukan perubahan sejarah yang sangat penting di Nusantara. (bersambung).