Jejak Ahmad Syaikhu, calon Wakil Gubernur Jawa Barat (1)

Partai Gerindra dan PKS sudah menetapkan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat pada  Pilgub Jabar 2018 yakni, Deddy Mizwar sebagai cagub dan Ketua DPW PKS Jabar Ahmad Syaikhu sebagai cawagub.

Penegasan ini disampaikan Presiden PKS Sohibul Iman, Selasa 25 Juli 2017.

"PKS dan Gerindra sudah sepakat mengusung Demiz (Deddy Mizwar) sebagai Jabar-1 dan wakilnya Ahmad Syaikhu.," ujar Iman.

Dijelaskannya Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sudah menyetujui pasangan itu.

"Pak Prabowo menyerahkan kepada PKS siapa yang akan jadi cawagub. Saya sudah sampaikan kepada Pak Prabowo bahwa cawagub dari PKS adalah Syaikhu. Beliau oke dengan usulan PKS," ucap Sohibul.

Untuk lebih mengetahui jejak langkah Ahmad Syaikhu, maka redaksi akan menuliskan secara berseri ihwal dirinya yang ditinjau dari berbagai aspek;  

Siapa Ahmad Syaikhu?

Ahmad Syaikhu adalah seorang politikus Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Jawa Barat.

Posisinya di ranah eksekutif saat ini, ia menjabat sebagai  Wakil Walikota Bekasi mendampingi Rahmat Effendi yang dilantik pada 10 Maret 2013. Pasangan ini diusung Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dibidang Legislatif, Ahmad Syaikhu pernah menjadi anggota DPRD Kota Bekasi dan Ketua Fraksi PKS di DPRD Provinsi Jawa Barat.

Sebelum terjun ke politik, Ahmad Syaikhu adalah auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Provinsi Sumatera Selatan di Palembang dari 1986 hingga 1989 kemudian dilanjutkan pada BPKP Pusat pada Deputi Bidang Pengawasan Keuangan Daerah.

Sebelum akhirnya pada Pemilu 2004, ia dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai anggota di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi. Masuknya ke dunia politik akhirnya ia harus mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil.

Putra Cirebon

Ahmad Syaikhu adalah kerabat Keraton Kasepuhan Cirebon yang  lahir di Desa Ciledugkulon, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon pada 23 Januari 1965. Ia merupakan putra kelima dari pasangan,K.H Ma’soem bin Aboelkhair, dan Nafi’ah binti Thohir.

Pendidikan dasar sampai dengan kelas V dilaluinya di SDN Ciledug III. Seiring dengan kepindahan ayahnya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sindanglaut, Cirebon, ia melanjutkan ke SDN Lemahabang II hingga lulus. Pendidikan menengah pertama dilaluinya di SMPN Sindanglaut, Cirebon dilanjutkan ke SMAN Sindanglaut, Cirebon. Setelah itu melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) .

Pendidikan agama diperolehnya dari orang tua, kakak, guru privat dan kiyai-kiyai di Pondok Pesantren Buntet Cirebon.

Sejak sekolah dasar ia sudah aktif mengikuti kegiatan pramuka. Di SMP dan SMA, ia aktif mengikuti dan menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra sekolah (OSIS). Ketika kuliah di STAN, aktivitas organisasi itu salurkan melalui Senat Mahasiswa sebagai Ketua Bidang Kerohanian Islam dan Ketua Masjid Kampus Baitul Maal Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan (BPLK).

Bersama dengan kawan-kawannya, ia mendirikan beberapa yayasan, di antaranya Yayasan At-Tibyan (Jakarta Timur) yang bergerak dalam pendidikan Islam dengan membuka TPA, Yayasan Istiqomah Bina Umat (IBU) di Pondok Gede Bekasi yang bergerak dalam Tahfidzul Qur’an (menghafalkan Al-Qur’an) dan Yayasan Lembaga Amil Zakat Tabung Amanah Umat (LAZ-TAMU) di Pondokgede yang bergerak di bidang pelayanan sosial dan kesehatan. Yayasan Adzkia di Bekasi Timur yang bergerak di bidang sosial dan ekonomi. Ia pun membina Peace & Love Bekasi, sebuah organisasi sosial lintas agama yang bergerak dalam bidang muamalah santunan yatim piatu dan kaum duafah.

Saat ini ia juga aktif sebagai Dewan pengawas Yayasan Islamic Center IQRO’ Pondokgede yang merupakan pelopor sekolah Islam terpadu. Selain itu ia juga diamanahi menjadi Ketua Ta’mir Masjid Annur, Yayasan Miftahul Amal Bojong Rawalele Jatimakmur Pondokgede Bekasi.

Ahmad Syaikhu punya komitmen yang sungguh-sungguh dalam merealisasikan amanat leluhurnya, Sunan Gunung Jati; “Ingsun titipna tajug lan fakir miskin ((aku (Sunan Sunung Jati) titip tajug/musholah/majid dan fakir miskin).” Sebuah amanat bahwa seluruh keturunan Sunan Gunung Jati, dalam kapasitasnya sebagai Muslim; maka dimanapun berada dan menetapkan jalan hidup apapun, wajib memakmurkan masjid dan menyayangi fakir miskin.

Kesibukan kerja tidak menghalanginya secara rutin ikut dalam kegiatan olahraga bulutangkis, bersepeda dan menembak.

Dalam soal menembak, setelah dipercaya menjadi Ketua Perbakin (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia) Cabang Kota Bekasi selama dua periode, kini ia bertindak sebagai pembina.

Kemampuan menembak diperolehnya saat mengikuti kegiatan pembekalan Konsepsi Nasional bagi pimpinan dan anggota DPRD se-Indonesia gelombang I di Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional) bertempat di Sekolah Polisi Negara Lido Sukabumi, di mana ia ketika itu menempati peringkat pertama dalam menembak. (bersambung).