Kinerja Industri Manufaktur pada kuartal II 2018 Menurun

Jakarta (855.news.com) -- Badan Pusat Statistik (BPS)mencatat industri manufaktur menurun di kuartal II 2018. Penurunan terjadi pada industri besar dan sedang (IBS) serta industri mikro dan kecil (IMK).

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan IBS di kuartal II hanya tumbuh 4,36 persen secara tahunan (year-on-year) atau lebih rendah dibanding kuartal I yakni 5,36 persen.

Sementara itu, IMK hanya tumbuh 4,93 persen atau melemah dibanding kuartal I yakni 5,25 persen.

Untuk IBS, yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah sektor jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan yang turun 11,37 persen secara tahunan.

Penurunan pertumbuhan tersebut kata Suhariyanto disebabkan oleh cuti bersama selama Idul Fitri 2018 kemarin. Cuti telah membuat produksi berhenti sehingga membuat permintaan jasa perbaikan menurun.

Tak hanya itu, sektor industri bahan kimia juga turun 4,94 secara tahunan dibanding kuartal I kemarin. Pelemahan rupiah yang mendongkrak kenaikan harga bahan baku membuat industri kimia menahan produksinya sehingga membuat kinerja industri kimia menurun.

"Industri kimia ini mungkin agak berdampak signifikan ke kinerja IBS karena kontribusinya ke seluruh pertumbuhan IBS mencapai 14,77 persen," jelas Suhariyanto, Rabu 1 Agustus 2018.

Meski demikian, Suhariyanto mengatakan bahwa masih terdapat beberapa sektor di dalam IBS yang mengalami kenaikan pertumbuhan.

Industri kulit dan alas kaki misalnya, pada kuartal II kemarin masih tumbuh 27,73 persen secara tahunan.

Kenaikan ditopang oleh permintaan ekspor yang semakin tinggi dan permintaan domestik yang menguat seiring persiapan tahun ajaran baru sekolah.

Selain itu, pertumbuhan industri makanan dan minuman terbilang stabil tumbuh di angka 8,6 persen. Menurutnya, pertumbuhan ini masih terbilang menggembirakan karena industri makanan dan minuman berkontribusi 25,14 persen terhadap total pertumbuhan IBS.(it)