Anwar Ibrahim Hadiri Peringatan 20 Tahun Reformasi Indonesia

Jakarta (855.news.com) -- Mantan politisi oposisi Malaysia Anwar Ibrahim yang baru bebas dari penjara berkunjung ke Jakarta hari ini, Minggu 20 Mei 2018 atas undangan mantan Presiden BJ Habibie dan Peringatan 20 tahun reformasi Indonesia.

"Hari ini saya ke Jakarta atas undangan mantan Presiden BJ Habibie bersamaan dengan Peringatan 20 Tahun Reformasi Indonesia," kata Anwar.  

Tokoh reformasi Malaysia itu menyatakan 1998 merupakan tahun yang kramat dan sangat berarti tak hanya bagi Indonesia, tapi juga Malaysia. Pemimpin Partai Keadilan Rakyat (PKR) itu mengatakan Malaysia dan Indonesia sama-sama menghadapi masa sulit krisis ekonomi global pada 1998. 

Selain itu, paparnya, masa-masa tersebut juga menjadi saksi kejatuhan rezim diktaktor dari kedua negara yang telah berkuasa hingga puluhan tahun lamanya.

"Tahun 1998 adalah tahun yang keramat bagi Malaysia dan Indonesia. Rakyat Indonesia mengenang 21 Mei 1998 sebagai kejatuhan rezim Orde Baru dan dimulainya transisi pemerintahan menuju yang lebih demokratis di bawah pimpinan Presiden BJ Habibie," kata Ketua Umum Pakatan Harapan, yang kini menjadi koalisi berkuasa di Malaysia setelah menang pemilu pekan lalu.

"Sementara itu, 2 September 1998 juga diingat rakyat Malaysia sebagai titik jatuhnya rezim Barisan Nasional setelah hampir dua dekade berkuasa," lanjutnya.

Anwar mengatakan pertemuannya dengan Habibie hari ini diharapkan bisa memperkuat hubungan kedua negara. Dia juga berharap lawatannya ke Jakarta hari ini bisa memperkuat komitmen untuk melaksanakan agenda reformasi di negaranya.

Malaysia, kata Anwar,  memerlukan tim khusus untuk mengkaji transisi kekuasaan di Indonesia pada 1998 lalu sebagai pelajaran menjelang era reformasi negaranya setelah pemilu 2018.

"Harus ada tim yang mengkaji atau meneliti pengalaman Indonesia dalam proses itu dari era Pak Habibie sampai era Jokowi. Apa kekuatannya, apa kelemahannya," paparnya.

Menurutnya, kaian ini sangat penting agar Malaysia tak mengulangi kesalahan dan dapat mengambil hal baik dari transformasi Indonesia. Proses transisi Indonesia dari Orde Baru ke Reformasi di bawah kepemimpinan BJ Habibie sangat patut dicontoh.

"Dalam waktu sesingkat itu, beliau bisa buat perubahan besar-besaran, dari institusi sampai aturan lainnya," ucap Anwar.

Menanggapi Anwar, Habibie mengatakan bahwa hal paling penting dalam transformasi Indonesia pada 1998 adalah dasar pembentukan Mahkamah Konstitusi.

"Karena sistem konstitusi itu harus ada yang mengawasi, yaitu yang memegang kuasa tertinggi, tapi pada saat itu tidak ada, maka langsung ke presiden," tutur Habibie.

Anwar lantas mengatakan bahwa Malaysia sebenarnya tidak separah Indonesia karena mereka sudah memiliki institusi yang dibutuhkan.

"Bukan saya ingin bilang Malaysia lebih baik, tidak. Namun, institusi itu harus dirombak sistemnya dan diisi dengan orang-orang yang benar-benar ingin melayani rakyat," kata Anwar.

Ia pun yakin Malaysia bisa menjalankan agenda reformasi di bawah pimpinan Mahathir Mohamad. 

"Tun Mahathir sudah berubah. Dia menunjukkan tekad kuat untuk menjalankan agenda reformasi, terutama untuk sistem peradilan dan kebebasan pers. Ia juga berupaya memilih jajaran kabinet yang bagus," katanya.

Setelah memenangkan pemilu bersejarah pada 9 Mei lalu, Mahathir yang disokong oleh koalisi pimpinan Anwar, Pakatan Harapan, memang langsung menjalankan janji kampanyenya. Salah satunya mengupayakan pengampunan raja Yang Dipertuan Agong untuk Anwar.

Ia juga menepati janjinya untuk memberikan jabatan Wakil Perdana Menteri kepada istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail.

"Esok Senin, saya akan hadir ke pelantikan di Istana. Saya harus membiasakan sebutan wakil perdana menteri yang dulu saya pegang sekarang jadi Wan Azizah. Saya hanya akan jadi pendamping," kata Anwar disambut gelak tawa wartawan. (tim).