Mencela

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Sejak sistem demokrasi liberal diterapkan penuh di negeri ini, tumbuh begitu pesat selera baru oleh sebagian masyarakat, yang sebenarnya ditinjau dari sudut pandang apapun masuk dalam kriteria perbuatan a-moral yakni, saling mencela, saling mengejek, saling menghina, saling mengolok-olok dan bahkan saling menista, termasuk di pelbagai jejaring media sosial.

Berbagai julukan yang buruk mudah terucap secara lisan atau melalui jari-jemari komentar di media sosial. Sepertinya julukan-julukan itu terkesan ringan, padahal sangat destruktif bagi keberlangsungan hidup bersama sebagai sebuah kaum, masyarakat maupun bangsa. Pun demikian jika ditautkan dengan nilai-nilai ajaran agama.

Makna mencela juga sangat serius, karena arti cela yaitu cacat, cedera, aib, fadihat, keburukan,  kecewa, kejelekan, kekurangan, kenistaan, noda, belang, borok, retak, kecaman, dan seterusnya. Sebab itu, kebiasaan saling mencela berpotensi besar memantik perselisihan, pertengkaran dan bisa jadi perang saudara. Hampir bisa dipastikan, tak seorang pun di dunia ini, di zaman ini, yang dapat menerima dengan lapang dada saat dirinya dicela.

Mencela beda dengan mengkritik. Esensi mengkritik adalah kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya atau pendapat. Jadi, mengkritik sifatnya lebih membangun karena memberi saran dan pertimbangan baik buruk sehingga bisa memperbaiki perilaku atau kesalahan tertentu.

Kenapa sebagian orang suka mencela, terutama mereka yang terlibat pergumulan dukung mendukung? Jawabnya bisa berbagai macam. Tapi semuanya berawal dari krisis kepercayaan diri. Sebab itu, para pencela tidak jarang bersikap impulsif. Sikap yang mengungkapkan alasan tak masuk akal dengan mencari sisi buruk dan semua kekurangannya. Bahkan, kadang berlebihan karena rasa tak suka. Lebih parah lagi kalau dilandasi rasa benci. Maka, pencela yang tak bisa mengontrol dirinya, sering terpeleset pada ranah fitnah, yang salah satu bentuknya berupa hoax.

Dari aspek psikologi, orang pencela masuk sebagai praktisi  bullying verbal. Sebab yang keluar dari dirinya sebagai besar berupa; ejekan, olok-olok, cemooh, hinaan dan fitnah. Yang semuanya ditujukan guna merendahkan, menjatuhkan mental dan menistakan.

Sedemikian destruktifnya daya rusak perilaku mencela bagi kehidupan, maka dalam ajaran Islam, mencela termasuk perbuatan dzalim dan pelakunya masuk golongan kaum munafik yang akan di azab secara pedih.

Allah SWT berfirman, yang artinya;”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11).

“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih” (QS. At Taubah : 79).

Kedahsyatan ancaman bagi pengumpat dan pencela dilukiskan surat ini sejak awal ayat. Bahkan kata pertamanya adalah ancaman kebinasaan, “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” Penyebutan ancaman “Wail”, kecelakaanlah… padahal di akhir surat juga diancam lagi dengan neraka, memberi pemahaman bahwa ini bisa saja merupakan ancaman kebinasaan dan kehancuran di dunia sebelum nanti di akhirat dimasukkan ke neraka.

Karenanya, kehidupan pengumpat dan pencela tak akan pernah mendapat ketenangan, kedamaian dan jauh dari rahmat dan keberkahan Allah, meski bisa saja hidupnya bergelimang harta. Ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan yang terlihat hanyalah fatamorgana.

Kelak di akhirat, para pengumpat dan pencela akan dimasukkan ke neraka Huthamah, “(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. Yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. (Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” Penyebutan 'hati' secara khusus dalam ayat ini, karena hati (Al Qalbu) adalah Amirul Badan, pemimpin tubuh, pengendali dan penentu. Jika hati baik, seperti dalam sabda Nabi saw, baiklah seluruh anggota tubuh. Sebaliknya, jika ia busuk, maka busuk ah seluruh anggota tubuh (HR Bukhari no. 50 dan Muslim no. 2996). Wallahualam bisawab. (*).