Litik, Po Hilang

Oleh: Imam Trikarsohadi)* 

Cara berpikir dalam menyikapi politik, termasuk pilihan didalamnya, mulai berlebihan.  Efeknya, interpretasi semakin jauh dari kebenaran yang sesungguhnya. Ini ngawur.

Bahkan, dalam derajat tertentu, sebagian orang menyikapi pilihan politik seperti yang Maha; yang dapat menentukan hidup dan mati banyak orang. Ini ngaco.

Politik telah menjadi mitos irasional; yang seolah-olah jika menggenggam kekuasaan politik dan jadi penguasa lantas bisa menyulap air hujan jadi es krim, menyulap panas mentari jadi salju, menampung badai jadi kipas angin, menyulap angin puting beliung jadi rudal balisitik, menjadikan orang miskin mendadak kaya raya, dan seterusnya--dengan serta merta. Semacam kekuatan kun fayakun. Ini mulai tidak waras.

Celakanya lagi, disadari atau tidak, jika menentukan pilihan politik; maka sama halnya dengan memilih kubu si baik atau si pandir. Kalau berganti pilihan politik dicap murtad bin munafik. Ini ngayasss, memangnya politik kitab suci? Pilihan politik atau partai politik hanyalah sarana guna memperbaiki kehidupan bersama dalam sistem demokrasi.  Hasilnya bisa ya bisa tidak, tergantung oleh banyak faktor, dari dalam maupun luar negeri.

Hakikatnya, politik bukan papan catur yang hanya ada warna hitam dan putih. Mau pilih A atau B, itu hanyalah pilihan selera yang bisa berubah kapan saja. Selera pilihan ini timbul karena keyakinan tentang mana yang lebih mewakili prinsip-prinsip kita.

Karena pada prinsipnya, aspirasi yang ingin disalurkan setiap warga negara Indonesia dalam memilih wakil atau pemimpin sama saja: ingin pemimpin yang dipilihnya memegang teguh prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan kesejahteraan sosial.

Itulah konstruksi waras dalam menyikapi politik. Fanatisme kita sudah seharusnya diletakkan pada fanatisme yang sifatnya ideologis negara ini.

Bukan fanatisme lain, nantinya bisa kacau balau.***