Genderuwo

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Presiden Joko Widodo kembali menyentil ihwal politik Genderuwo saat berpidato dalam  Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di ICE BSD Hall 3A, Tangerang, Minggu 11 November 2018.

Menurut Jokowi, Indonesia tidak butuh politik genderuwo yang menebar ketakutan. Bila saja itu dilakukan, itu sia-sia saja karena anak-anak muda tak pernah bisa ditakut-takuti. Lebih baik, semuanya mendukung pembangunan ekosistem yang produktif, bukan membuat suasana gelap.

"Bukan Indonesia yang gelap apalagi Indonesia yang bubar. Kita tumbuhkan suasana yang penuh harapan bukan suasana ketakutan," tandasnya.

Ini bukan kali pertama, pada acara bagi-bagi sertifikat tanah di Tegal, Jawa Tengah, Jumat 9 November 2018, ia pun menyebutkan hal yang sama.

Intinya, kira-kira; siapa saja yang ingin mencapai tujuan dengan cara menebar ketakutan, kegelapan dan pesimistis, maka, ia seperti Genderuwo.

Nah, sebab saya juga dibesarkan di sebuah daerah yang akrab dengan mitos Genderuwo, maka mau tidak mau terpantik. Sebab ketika kecil dulu, saya acapkali sebal dengan bibi-bibi (tante-red) yang acapkali menakut-nakuti ihwal hal ini.

Setelah berburu literasi, akhirnya ditemukan apa itu Genderuwo. Menurut mitos Jawa, ia sejenis bangsa jin dan makhluk halus yang berwujud manusia mirip kera, bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan. Rambutnya lebat dan tumbuh di sekujur tubuh.

Genderuwo dipercaya dapat berkomunikasi dan melakukan kontak langsung dengan manusia. Berbagai legenda menyebutkan bahwa genderuwo dapat mengubah penampakan dirinya mengikuti wujud fisik seorang manusia untuk menggoda sesama manusia.

Ia juga sosok makhluk yang iseng dan cabul, karena kegemarannya menggoda manusia terutama kaum wanita dan anak-anak.Genderuwo kadang senang menepuk pantat perempuan, mengelus tubuh perempuan ketika sedang tidur, bahkan sampai memindahkan pakaian dalam perempuan ke orang lain.

Salah satu kegemaran Genderuwo yang paling utama adalah menggoda istri-istri kesepian yang ditinggal suami atau para janda, dan bahkan kadang genderuwo bisa sampai melakukan hubungan seksual dengan mereka. Dipercaya bahwa benih daripada genderuwo dapat menyebabkan seorang wanita menjadi hamil dan memiliki keturunan dari genderuwo.

Ini berarti, Genderuwo biangnya cabul dari segala jenis cabul.

Banyak kalangan mempercayai salah satu cara memanggil genderuwo adalah dengan membakar sate gagak. Diyakini, burung gagak adalah makanan kesukaan sekaligus binatang peliharaan genderuwo, dalam hal ini seperti manusia yang memelihara ayam.

Ritual mengundang genderuwo yang lengkap dengan segala sesajinya banyak dilakukan orang, terutama yang berkepercayaan tradisional di pulau Jawa. Hal ini berkaitan dengan maraknya judi togel yang dahulu dikenal dengan istilah nomor buntu atau nomor jitu. Para penjudi meyakini bahwa dengan mengundang o, keinginan untuk mendapat nomor yang beruntung bisa terpenuhi dan dengan berbekal sedikit keberanian, keuntungan besar bakal gampang mereka peroleh.Hal unik yang terjadi dalam ritual pemanggilan genderuwo hingga permintaan untuk menyebutkan "nomor jitu" adalah dilakukannya transaksional. Diyakini bahwa setelah genderuwo keluar dari sarang, si pasien  harus secepatnya meminta apa yang mereka inginkan sebelum genderuwo mencuri atau memakan umpan sate burung gagak sebelum mengucapkan permintaan. Sebab, jika genderuwo telah kenyang akan segera menghilang pergi tanpa mau memberikan jawaban yang diinginkan pemanggilnya.

Cerita diatas jika ditarik ke dunia politik, maka Genderuwo adalah penganut wani piro, dan jika tidak didesak, maka ia cenderung ingkar janji.

Meski ihwal Genderuwo adalah mitos, tapi mitos dalam tataran budaya Jawa selalu saja dalam dan ada maksud didalamnya, dan kali ini terkait soal perwatakan. (*).