Berpindah

Oleh: Imam Trikarsohadi.

Minggu 9 September 2018, saya “pulang” oleh sebab harus memimpin sebuah musyawarah  dengan para Raden dan Elang di Goa Sunyaragi, Cirebon. Tapi jangan tanya harus seberapa nekuk saya membungkukan badan sebab bersua beliau-beliau dan/atau orang lian harus membungkuk ketika berjumpa saya. Bukan, bukan itu, tapi ihwal semangat bersama yang telah lama menggelitik untuk mengaktualisasikan kembali Cirebon sebagai pusat syiar, budaya, kreativitas, ekonomi dan sebagainya.

Semangat ini telah lama bersemi dan makin hari kian menyebar dan menyentuh pelbagai kalangan. Sebab itu, setelah bertahun-tahun saya ngeles, akhirnya apa boleh buat; menyerah menerima amanah ini sebagai bagian dari menyempurnakan ibadah yang selama ini terlanjur terlalu banyak komanya.

Semangat yang masih terkesan diam-diam tapi luar biasa energinya di Cirebon adalah semangat “berpindah”, sebab itu sedang berproses semacam  starting point untuk untuk melakukan muhasabah sekaligus survival.

Target goal-nya; jika masing-masing individu berhasil, maka keluarga, tetangga, saudara, daerah dan bangsa ini punya potensi berhasil. Ini kebetulan selaras dengan semangat hijriyah, semangat berpindah ke dalam situasi yang lebih baik dalam berbagai aspek, terutama ibadah.

Sebab sejatinya, peringatan Tahun Baru Hijriyah adalah sebuah momentum untuk kita mengevaluasi diri kita pada tahun yang lalu, untuk melakukan langkah perubahan yang lebih besar pada tahun yang akan datang.

Kita evaluasi sholat kita pada tahun lalu, jika masih banyak yang tertinggal maka targetkan perubahan untuk konsisten melaksanakan sholat lima waktu ditambah dengan sholat sunnah, jika dahulu masih sholat sendiri dirumah, ke depan rencanakan untuk sholat berjamaah di Masjid.

Kita evaluasi sedekah kita, apakah sudah sesuai dengan banyaknya limpahan rezeki yang Allah berikan kepada kita.

Kita evaluasi semua ibadah kita tahun yang lalu untuk kita lakukan perubahan pada tahun yang akan datang. Kita evaluasi semua dosa dan kemaksiatan kita, untuk segera kita tinggalkan dan kita mohonkan ampun kepada Allah.

Jika, sewaktu muda, kita ingin mengubah seluruh dunia. Lalu kita  sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka kita putuskan untuk mengubah negeri  ini  saja.

Ketika kita sadari bahwa mengubah negara itu sulit, kita mulai berusaha mengubah kota atau daerah kita saja. Ketika semakin tua, dan kita menyadari  mengubah kota atau daerah kita pun tak gampang. Maka kita  mulai berniat  mengubah keluarga saja.

Usia terus berkurang dan kita semakin renta, yang terjadi kemudian  mengubah keluarga pun susah payah.

Hingga pada satu titik kita baru sadar bahwa satu-satunya yang bisa kita ubah dengan segera adalah mengubah diri sendiri menjadi lebih baik.

Intinya, jika kesadaran untuk mengubah diri sendiri jadi lebih baik dari waktu ke waktu dapat direalissasikan, maka sejatinya kita bisa mengubah keluarga, kota,daerah, negeri, dan bahkan dunia.

Maka, mulailah sibuk untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih baik, karena dunia  terus berubah, jika kita tidak mengikuti perubahan ke arah yang positif, maka kita akan hanyut dan tergerus, lalu hanya jadi tukang sorak sorai.(*).