Proyek Sadisme

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Islam sejati tidak mengenal terorisme, sebab dalam Islam; membunuh manusia adalah tindakan sekelas dengan kufur (tidak percaya kepada Allah).

Dalam Islam, tidak seorang pun berhak membunuh manusia. Tak seorang pun berhak mengusik orang yang tidak bersalah, bahkan pada saat perang. Maka, tak seorang pun dibolehkan memberikan fatwa guna memantik orang lain melakukan aksi  terorisme dengan membunuh orang yang tak bersalah, termasuk bunuh diri.  

Bahkan dalam keadaan perang—saat yang sulit untuk mempertahankan keseimbangan—hal ini tetap tidak diperbolehkan dalam Islam. Islam menandaskan; “Jangan sentuh anak-anak atau orang-orang yang sedang beribadah”. Penandasan ini terus difatwakan sepanjang sejarah, sejak zaman  Nabi Muhammad saw  hingga kini.

Sayang sungguh sayang, di zaman ini, oleh sebab syahwat individual dan kelompok tertentu; Islam diseret sedemikian rupa ke ruang berhalimun, Allah SWT dikerdilkan, dan surga dianggap harta warisan.

Sumber petaka ini bermula dari beberapa pemimpin agama dan umat Islam yang belum tamat memahami nilai-nilai Islam, lalu mengaplikasikan Islam sekehendak interpretasi sendiri. Agama dijadikan alat fundamentalis. Mereka melibatkan banyak orang dalam upaya melayani mereka, syahwatnya, ambisi-ambisinya, dan kegilaaannya.

Dalam Islam, proses untuk mencapai kualitas keimanan tidak boleh menggunakan metode dan cara yang diharamkan. Tujuan dan cara meningkatkan derajat keimanan harus sama-sama benar. Artinya, tak ada surga yang tersedia bagi pembunuh sesama manusia tak bersalah dan/atau bunuh diri. Tak ada keridhoan Allah SWT yang didapat dengan cara membunuh.

Seorang muslim sejati, orang yang memahami Islam dalam setiap aspek, tak akan bikin kekacauan, apalagi jadi teroris. Tak cukup alasan seseorang untuk tetap dianggap sebagai seorang muslim jika ia terlibat dalam terorisme. Islam tidak menyetujui siapapun untuk membunuh orang lain demi mencapai tujuannya.

Ini jadi pekerjaan rumah kita sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Kita perlu mencari solusi tentang bagaimana orang Islam dapat memahami nilai-nilai Islam secara benar dan utuh dan jenis tanggungjawab apa yang mesti diemban guna mendidik mereka agar tak terjerumus dalam terorisme.

Orang Islam dapat dicegah tidak terlibat terorisme melalui nilai-nlai yang bersumber dari keimanan; seperti takut akan Allah, takut akan hari kiamat, dan takut menentang prinsip-prinsip agama. Hal-hal ini, yang belum kita optimalkan. Umat Islam di Indonesia masih menyibukan diri dengan urusan-urusan yang ujung-ujungnya bemotif kekuasaan dalam pelbagai rupa dengan berbagai dalih dan kemasan.

Kita, dari rakyat dibawah sana hingga kepala negara, mestinya sudah memberikan pengajaran konkrit kepada generasi muda  ihwal  bagaimana cara bergaul dengan calon pasangan masa depan mereka, dan bagaimana membesarkan anak-anak mereka, di era yang semakin cepat berputar. Seiring dengan itu kita harus sungguh-sungguh menanggulangi dan/atau memerangi yang membuat negeri ini terpuruk; korupsi dan narkoba. Dengan demikian, derap pembangunan sampai hingga rakyat terbawah.

Tanpa upaya-upaya itu, akan selalu ada rakyat yang merasa ditinggal sendirian, lalu mencari solusi sendiri dengan cara sendiri, dan benar kata sendiri. Orang-orang ini tumbuh di antara kita, anak-anak yang terdoktrin lalu ikut serta melakukan bom bunuh diri adaah juga anak-anak kita. Mengapa sebagian dari mereka menjadi teroris? mengapa jadi orang-orang jahat? Mengapa bikin kekacauan? mengapa menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan? mengapa merusak kedamaian negeri sendiri dan meledakkan diri sebagai pembom bunuh diri?.

Anak-anak itu berproses diantara kita. Berarti ada yang salah terkait pendidikan mereka. Ada yang berlubang dalam dunia pendidikan di tanah air, di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, komunitas-komunitas pengajian dan sebagainya.

Titik-titik lemah ini perlu ditelusuri secara sungguh-sungguh dan segera diperbaiki. Pengembangan manusia harus diberikan prioritas secara merata dan adil. Jika tidak, kita akan kehilangan beberapa generasi yang  hancur dan sia-sia oleh berbagai sebab musabab.

Mereka yang terlibat terorisme itu sejatinya kehilangan nilai-nilai spiritualitas. Mereka hanya punya amarah yang membuncah yang mereka kira hal itu nilai-nilai agama. Orang-orang jenis ini sangat muda dipengaruhi dengan berbagai janji, termasuk janji palsu tentang masuk surga dengan cara membunuh dan/ atau bunuh diri.

Jika kita mempelajari konstruksi terorisme dunia, termasuk ISIS, maka dipusatnya; ada sekerumunan bandit yang selalu  mengambil keuntungan dari orang-orang yang punya stok amarah, dendam, kesepian dan bodoh. Lalu, jejaring  para bandit (sebagain diantaranya berada di Irak dan Suriah) ini membius dan menjadikan mereka sebagai robot.

Orang-orang muda dan sekarang keluarga, disalahgunakan sedemikian rupa sehingga mereka bisa dimanipulasi. Mereka telah digunakan sebagai pembunuh dengan dalih beberapa cita-cita atau tujuan gila dan mereka telah digunakan untuk membunuh orang. Beberapa orang yang berpikiran jahat menginginkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menyalahgunakan orang-orang ini.

Penyerangan tempat-tempat ibadah, entah itu masjid yang dilakukan oleh mereka yang disebut “orang gila”, penyerangan gereja, tempat-tempat publik dan markas-markas polisi yang dilakukan oleh mereka yang disebut teroris. Tujuannya sama; untuk memantik agar negeri ini kacau balau, karena  semua orang berubah jadi pembunuh. Tiap orang berusaha saling membunuh. Semua orang menjadi teroris. Orang-orang di sebelah sana teroris, orang-orang di sebelah sini teroris juga. Dan setiap orang memberi label yang berbeda-beda terhadap tindakan yang sama.  Negeri ini pernah punya sejarah kelam yang seperti ini ketika terjadi pemberontakan PKI dimana puluhan ribu orang terbunuh dan saling membunuh.

Untuk itu kita harus bersatu padu untuk mencegah terjadinya sebuah situasi mengerikan dimana diantara kita saling membunuh sambil berkata-kata;“Aku melakukan ini atas nama Islam”. Orang lain berkata, “Aku melakukannya demi bangsa dan tanah airku”. Yang lainnya lagi, “Aku berperang melawan kapitalisme dan eksploitasi”, dst.

Kita harus mencegah terjadinya situasi mengerikan dimana  membunuh menjadi kebiasaan. Lalu menjadi hal yang dimaklumi oleh sebab jumlah korbannya tidak fantastik.

Situasi ini juga dapat dicegah melalui pendidikan, payung hukum yang lebih prefentif (RUU terorisme mesti segera diberlakukan) dan pengajaran kebenaran secara terbuka dan langsung bahwa umat Islam haram jadi teroris. Sebab apa? Jawabnya karena semua orang harus memahami bahwa jika mereka melakukan tindak kejahatan, meskipun sekecil atom, mereka harus mempertanggungjawabkannya di dunia maupun di akhirat kelak.(*/berbagai sumber).