Hakikat dan Makna Sabar (Sabar, Ikhlas, Syukur-4)

Oleh: Imam Trikarsohadi.

Sejatinya, manusia terbentuk dari dua dimensi; Dimensi malakut dan spiritual, yang dinamakan dengan roh, dan dimensi nasut dan bahimi, yang disebut dengan jisim, dan juga gharizah dan kecenderungan. Jadi, hakikat manusia tersembunyi di dalam dimensi spiritualnya.

 

Jika dimensi spiritual menang atas dimensi bahimi, serta mampu menjinakkan dan memanfaatkannya, maka seorang manusia akan mampu sampai ke suatu rahasia yang hanya diketahui  Allah SWT. Sebaliknya, jika dimensi bahimi yang menang atas dimensi spiritual, maka manusia akan sampai ke suatu derajat yang lebih rendah dari hewan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar menang di dalam pertempuran ini, yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai “peperangan yang lebih besar”? Apa yang harus kita lakukan sehingga dimensi spiritual kita mampu menjinakkan dan memanfaatkan dimensi bahimi kita? Jawabnya;  kita harus mendatangkan kekuatan dari luar, dan bukan dari dalam.

Al-Quran telah menetapkan kekuatan untuk perkara ini. Sekiranya manusia mampu mengambil manfaat darinya, maka roh dan keinginannya akan menjadi kuat, dan pada akhirnya dia akan menang dalam “pertempuran” kehidupan  ini.

Firman Allah:“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah (2): 153).

Sabar mencakup tiga aspek yakni; (i). Sabar dalam menghadapi musibah dan kesulitan; (ii). Sabar di dalam melakukan ibadah;  dan (iii). Sabar di dalam menjauhi maksiat.

Demikian halnya pahala ketiga sabar itu berbeda-beda. Sabar di dalam menghadapi kesulitan mempunyai ganjaran yang besar, dan dalam pandangan Al-Quran ganjarannya tidak terhitung.  

Firman Allah: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(QS.Az-Zumar : 10).

Sabar di dalam melakukan ibadah ganjarannya lebih besar daripada ganjaran sabar di dalam menghadapi musibah, dan ganjaran sabar di dalam menjauhi maksiat jauh lebih besar dibandingkan ganjaran sabar di dalam melakukan ibadah.

Sebab itu, manusia yang sabar adalah manusia yang tidak kehilangan keseimbangan dirinya dalam menghadapi berbagai kesulitan, manusia yang tidak marah manakala kelelahan (jelas, amal perbuatannya ini dijalan Allah). Maka baginya pahala yang tidak terbatas. Maksudnya, orang ini mendapatkan ganjaran yang besar, yang tidak ada orang yang mengetahui seberapa besarnya kecuali Allah SWT.

Untuk itu, dengan kesabaran, manusia akan mampu mengambil manfaat dari pelbagai kesulitan, lalu, kesulitan-kesulitan ini akan berubah menjadi sebesar-besarnya kenikmatan bagi dirinya. Karena, kesulitan-kesulitan ini akan mendorong kepada penguatan roh dan keinginan, dan akan mendorong kearah kesempurnaan. Karena, tujuan dari penciptaan manusia adalah agar manusia menuju kesempurnaan.

Sebaliknya, jika dia tidak mampu mengalahkan kesulitan-kesulitan, maka, niscaya   akan terpuruk, merasa resah, gelisah, dan putus asa, hingga secara perlahan-lahan terjerembab dalam kekufuran, dan kemudian syaraf-syarafnya melemah sedemikian rupa.

Dari mana datangnya penyakit lemah syaraf? Dari keresahan dan kesedihan yang bukan pada tempatnya. Sebab apa keresahan dan kesedihan muncul? Karena tidak punya kesabaran, akal sehat, dan sikap istiqamah.

 Sebab itu, sabar adalah pilar kebahagiaan seorang manusia. Dengan kesabaran, manusia akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95).(bersambung).