Ikhtiar (Sabar, Ikhlas, Syukur - 2)

Oleh: Imam Trikarsohadi

Ikhtiar berasal dari bahasa Arab (إخْتِيَارٌ) yang berarti mencari hasil yang lebih baik. Adapun secara istilah, pengertian ikhtiar yaitu  usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum. Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “memilih yang baik-baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, jika usaha kita gagal, hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dan tidak berputus asa. Kegagalan dalam suatu usaha, antara lain disebabkan keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Apabila gagal dalam suatu usaha, setiap muslim dianjurkan untuk bersabar karena orang yang sabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah atau berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi dengan perbuatan baik, bidang usaha yang akan dilakukan harus dikuasai dengan belajar sepanjang masa, selalu berhati-hati mencari teman (mitra) yang mendukung usaha tersebut, serta memunculkan perbaikan-perbaikan dalam manajemen yang profesional.

Setiap manusia memiliki keinginan dan cita-cita untuk mendapat kesuksesan, tak ada seorang pun yang menginginkan kegagalan. Hal ini karena Allah menganugerahkan kehendak kepada manusia. Jika kehendak tersebut mampu dikelola dengan baik, manusia akan menemukan kesuksesannya.

Allah berfirman: “ (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(QS.Ash-Shaff:11)

Larangan Berputus Asa

Allah telah mencontohkan kisah Nabi  Ya’qub dalam Al-Qur’an sebagai contoh nyata pelajaran orang-orang yang ditimpa kesusahan dan larangan berputus asa. Nabi Ya'qub yang terus berdo'a dan berharap pada Tuhannya setiap saat agar tidak termasuk orang-orang yang berputus asa, karena berputus asa pada kebaikan Tuhan adalah sifat-sifat orang yang kafir.

Kisah itu digambarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 87: ”Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS: Yusuf: 87)

Tak ada cara lain, mari kita arahkan semua pada Islam. Berikhtiarlah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita, yakni: dengan memilih jalan-jalan keluar yang baik-baik dan yang diridhoi Allah Subhanahu wa-ta'ala.

Dalam ikhtiar juga terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan dasar pertimbangan utama berupa apa yang digariskan hukum Allah, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya dan meskipun tidak popular atau terasa berat.

Pertanyaannya kemudian, mengapa manusia wajib berikhtiar secara optimal? Jawabnya, karena Allah berfirman:              

“...Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS.Ar Ra’du: 11).

Allah pun berfirman: “Apabila telah di tunaikan shalat, maka bertebarlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.( QS. Al-Jumu’ah 10 ).

Penjabaranya; jika  ada salah seorang diantara manusia membawa tali untuk mencari kayu bakar, kemudian ia kembali membawa seikat kayu bakar dipunggungnya, lalu menjualnya—sehingga Allah SWT mencukupi kebutuhanya dari hasil penjualan kayu itu, maka yang demikian jauh lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, entah permintaan itu dikabulkan atau ditolak (HR.Bukhari).

Sebab itu, manusia yang melakukan ikhtiar secara optimal akan mendapatkan manfaat positif, seperti:

 1. Merasakan kepuasan bathin, karena telah berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan yang di miliki.

2. Terhormat di hadapan Allah SWT, dan sesama manusia.

3. Dapat berhemat karena merasakan susahnya bekerja.

4. Tidak mudah berputus asa.

5. Menghargai jerih payahnya sendiri dan jerih payah orang lain.

6. Dalam kehidupannya tidak tergantung kepada orang lain.

7.Menyelamatkan akidahnya, karena tidak berserah atau  bertawakal kepada makhluk.

Adapun bentuk-bentuk perilaku ikhtiar yang  harus diamalkan dalam kehidupan manusia adalah:

a. Mau bekerja keras dalam mencapai harapan dan cita-cita.

b. Selalu bersemangat dalam menghadapi kehidupan.

c. Tidak mudah menyerah dan putus asa.

d. Disiplin dan penuh tanggung jawab.

e. Giat bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.

f. Rajin berlatih dan belajar untuk  meraih yang diinginkan  dan dicita-citakan.

Sebab itu, setiap muslim wajib membiasakan diri berikhtiar. Sikap perilaku ikhtiar akan memberikan kemampuan dalam menghadapi semua godaan dan tantangan dengan kerja keras. Untuk itu, dalam ikhtiar harus selalu memperhatikan hal –hal sebagai berikut:

a. Secara konsisten mempertebal iman kepada Allah SWT.

b. Melawan sikap malas dalam bentuk apapun.

c. Tidak mudah menyerah dan putus asa.

d. Berdo’a kepada Allah agar diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar.

e. Rajin dan bersemangat dalam melakukan setiap usaha.

f. Tekun dalam melaksanakan tugas, dan cerdas memanfaatkan waktu.

g. Memilik tekad, semangat dan upaya yang kuat dalam memajukan setiap ikhtiar.

B. Ikhtiar dan Tawakal

Tawakal secara bahasa, berarti bersandar atau mempercayai diri. Dengan demikian, tawakal adalah sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah, atau menyerahkan sepenuhnya setiap hasil ikhtiar kepada Allah SWT.

Tawakal merupakan sikap aktif yang hanya dapat tumbuh dari manusia yang memahami hidup dengan benar serta menerima kenyataan hidup dengan tepat. Sebab pangkal tawakal adalah kesadaran dalam diri pribadi ihwal perjalanan pengalaman manusia secara keseluruhan dalam sejarah kehidupan.

Tawakal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah—keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuan-Nya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorong manusia untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tentram serta tidak ada curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Allah berfirman:“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS.Ali Imran (3) ayat 159).

“...dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..” (QS. Ath-Thalaq (65) ayat 3).

C.  Manfaat Ikhtiar dan Tawakal

Manfaat melakukan ikhtiar dan tawakal adalah:

1. Jika melakukan perpaduan antara ikhtiar dan tawakal, maka akan muncul sikap lebih berani melakukan berbagai usaha.

2.  Menghapus sikap saling menyalahkan jika terjadi sebuah kegagalan.

3.  Semakin pandai dan terampil, karena setiap usaha pasti ada ilmunya dan ada kiatnya menuju keberhasilan.

Hikmah dari berikhtiar dan bertawakal:

1.  Menghilangkan rasa malas, murung dan keluh kesah.

2.  Menumbuhkan harapan baru dalam hidup. Karena setiap dari satu usaha dapat menumbuhkan sejuta harapan, dan dengan banyak berusaha yang positif, maka akan semakin banyak harapan.

3.  Meninggikan derajat dihadapan manusia dari Allah SWT.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammmad bersabda, yang berarti:“Tidak ada satu makanan pun yang dimakan oleh seseorang yang lebih baik dari makanan yang diperoleh melalui usahanya sendiri. (HR. Imam Bukhari)”

D.Ikhtiar, Tawakal, dan Pasrah.

Terdapat tiga tingkatan tawakal; (i). Tawakalnya orang awam kebanyakan; (ii). Tawakalnya orang khawas yang sudah jauh anak tangganya ke atas; (iii).Tawakalnya khawasul khawas, yaitu orang yang sudah mencapai pada tingkat puncak.

Tawakal bukan pasrah.  Apakah maksud dari pasrah? Pasarah adalah meninggalkan usaha dengan badan, meninggalkan pengaturan dengan hati dan jatuh di atas bumi bagaikan daging di atas landasan tempat memotong daging. Tawakal seorang muslim bukan seperti daging yang tergeletak diatas tempat pemotongan, yang tidak ada usaha sama sekali.

Tawakal bukan sekedar berdoa saja, yang  semua denyut jantung seolah-olah  diserahkan kepada Tuhan, tanpa ikhtiar nyata sama sekali. Perilaku yang demikian justru diharamkan oleh syari’ah. Sebab, sejatinya, manusia wajib bergerak dan berupaya secara optimal.

Allah berfirman: Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. At-Taubah: 105).                                                       

Pada hakikatnya, manusia dilarang berdiam diri, sebagaimana firman Allah:Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Jadi, ada 4 kriteria pengecualian manusia yang tidak termasuk manusia yang merugi:

1. Orang-orang yang beriman.

 Iman yang seperti apa sih yang membuat manusia itu tidak merugi? Ialah iman yang dibenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan yang baik. Kalau hanya mengaku "saya beriman" itu tidak cukup dikatakan bahwa seseorang itu telah beriman. Kudu dibuktikan dengan pembenaran dalam hati juga. Kalau sudah dibenarkan dalam hati, dan sudah mengaku lewat ucapan bahwa "saya beriman" itu juga masih belum cukup, kudu dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan yang mencerminkan kalau seseorang itu beriman. Nah, hal tersebut ditegaskan pada kriteria yang ke-2 pada ayat yang ke-3 ini, yaitu "mengerjakan amal sholeh".

2. Mengerjakan amal sholeh.

Pastiinya, mengerjakan amal sholeh merupakan salah satu perbuatan yang membuktikan bahwa seseorang itu beriman. Amal sholeh itu baik berupa ibadah-ibadah mahdhoh mapun ghoiru mahdhoh. Untuk ibadah-ibadah wajib, jelas, tak ada alasan untuk meninggalkannya. Namun harus disempurnakan juga dengan ibadah-ibadah sunnah, tentunnya dengan apa yang telah dituntunkan Rasulullah SAW. Berbuat baik kepada orang lain, itu salah satu ibadah ghoiru mahdhoh yang dituntukan oleh Rasulullah. Di satu pihak kita melakukan kebaikan untuk diri sendiri, itu pun tidak cukup, karena pada hakikatnya kita sebagai ummat islam itu saling bersaudara. Dan hendaknya sebagai saudara kita juga saling menasehati untuk kebaikan tersebut. Hal ini ditegaskan pada kriteria berikutnya.

3. Saling berwasiat/menasehati dalam kebaikan. 

Istilah kerennya "Amar ma'ruf, nahi munkar" atau dalam bahasa Indonesia artinya "Menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar". Ma'ruf  adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya. Tentunya dalam kita menyampaikan sesuatu tersebut butuh ilmu terlebih dahulu supaya apa yang akan kita sampaikan benar benar menyeru kepada yang baik. Untuk itu mempelajari ilmu tentang kebenaran tersebut juga sangat diperlukan, terutama tentang ilmu agama. Pada prosesnya, tentu dalam menyampaikan kebajikan dan mencegah kemunkaran tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang menjumpai orang-orang yang tidak mempan kalau hanya disampaikan. Atau mungkin menjumpai suatu golongan yang semua orang-orangnya berbuat kemunkaran. Maka dari itu diperlukan kriteria terakhir ini, yaitu menasehati dengan kesabaran.

4. Saling berwasiat/menasehati dengan kesabaran.

Ketika kita menjumpai kemunkaran tentu tidak begitu saja mudah kita cegah. Tentu ada hal yang membuat kita kesulitan, bahkan hampir mustahil untuk mencegahnya. Untuk itu, sabar merupakan salah satu jalan dalam menghadapi fenomena tersebut. Setidaknya jika suatu golongan melakukan kemunkaran, kita tidak ikut duduk bersama mereka untuk melakukan kemunkaran pula. Atau ketika banyak orang melakukan sesuatu yang mendekati kemunkaran, setidaknya kita tidak ikut-ikut untuk melakukan sesuatu tersebut. Karena jika kita melakukan maka kita termasuk golongan mereka. Tentu saja banyak godaan godaan, apalagi di era sekarang ini, untuk berbuat munkar. Dan lagi-lagi, sabar menjadi pilihan utama untuk menghadapi godaan-godaan tersebut. Percayalah, bahwa sesungguhnya dibalik kesabaran tersebut terdapat nikmat yang tiada bandingnya. 

Jadi, kita harus melakukan  keempat-empatnya, agar tidak merugi. Artinya, adalah sebuah kekeliruan jika beranggapan, apalagi berkeyakinan, jika tingkat kepasrahan seseorang diukur dari karena yang bersangkutan hanya berdoa saja, meninggalkan keramaian, menelantarkan anak cucu dan keluarga. Sebab yang demikian itu justru sebuah dosa.

Sebab, sejatinya, ciri-ciri tawakal akan terlihat dari gerak-gerik seseorang; apakah ia rajin berusaha dan berikhtiar atau tidak. Jadi, ikhtiar adalah usaha. Seseorang yang sakit wajib hukumnya untuk berobat. Tidak boleh berpasrah diri begitu saja ketika sakit. Orang yang mati dalam keadaan tidak berikhtiar, maka sama saja mati bunuh diri.

Ada kalanya usaha tersebut dilakukan untuk menarik manfaat, yaitu seperti bekerja untuk mendapatkan gaji/upah, maka itu, merupakan usaha (ikhtiar) mencukupi kebutuhan hidup. Jika manfaat sudah diperoleh, dan manfaat itu dipelihara dengan baik sesuai ketentuan Allah, maka ini adalah bagian dari tawakal. Sebab itu, dilarang hidup berlebih-lebihan dan mubazir.

Kewajiban kita adalah memelihara manfaat atau harta yang diperoleh dengan menyimpan/menabungnya, untuk berjaga-jaga saat menghadapi situasi darurat. Sebab itu dianjurkan untuk berhemat.

Jika suatu waktu harta itu hilang, maka jangan khawatir secara berlebihan, apalagi sampai histeris atau stres, sebab pada hakikatnya kita sudah melakukan ikhtiar. Jika terjadi seperti ini, maka yakini dalam hati, bahwa Allah  pasti menyimpan sesuatu yang tidak berkah di dalam harta itu, sehingga kemudian mengambilnya melalui orang lain. Janganlah bersedih jika suatu waktu  mengalami kehilangan harta. Yakinlah, bahwa pasti ada sesuatu yang tidak bermanfaat seandainya harta itu tetap tinggal bersama kita. Tak usah meratapi barang yang hilang, sebab apa yang telah hilang itu belum tentu akan kembali.

Ikhtiar juga dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemelaratan, yaitu seperti menolak orang-orang yang menyerang, menolak pencuri, ataupun menolak binatang buas. Dalam hal ini, kita tidak boleh berpasrah saja jika menghadapi hal-hal tersebut. Selain itu, ikhtiar juga dilakukan untuk menghindari penyakit, yaitu seperti meminum obat. Jika kita sakit, lalu kita kemudian tak mengobatinya, maka hal ini bukanlah tawakal, melainkan kita telah melakukan dosa.

Jadi, gerak-gerik seorang manusia  tidak terlepas dari empat hal:

(1). Menarik kemanfaatan, yaitu seperti bekerja. Kita bertawakal, tapi kita juga bekerja. Menarik manfaat maksudnya kita berusaha yang dari usaha itu ada hasilnya. Hasilnya itu kita gunakan untuk hidup sejahtera, untuk membiayai anak-anak bersekolah, digunakan untuk menjadikan anak kita sebagai anak yang saleh.

(2). Memelihara kemanfaatan, yaitu seperti menyimpan harta. Jika pada yang pertama tugas kita adalah mencari harta, maka yang kedua tugas kita adalah menyimpannya.

(3). Menolak kemelaratan. Kita tidak boleh menjadi orang yang melarat, juga menjaga dari ancaman luar. Maksudnya, jika kita sudah tahu bahwa pola hidup kita itu ujung-ujungnya akan melarat, maka hindarilah jalan itu, carilah jalan yang lain. Seandainya pun juga ada dua cabang yang itu tidak ada pilihan hidup, misalkan jika kita bertahan pada suatu pendirian maka kita akan mati kelaparan. Tapi kalau kita mengambil jalan yang lain yang itu hasilnya adalah haram, maka pilihlah yang haram itu, seandaikan memang sudah tak ada pilihan yang lain.

(4). Memotong kemelaratan. Misalnya, jika kita sedang sakit, maka kita harus memotong jangan sampai sakit tersebut terlalu lama. Jika flu tanpa diobati, biasanya flu tersebut baru sembuh setelah 5 - 10 hari. Tetapi dalam hal ini kita tahu kondisi diri kita. Biasanya jika kita meminum obat, maka flu tersebut akan begitu cepat sembuh, yaitu paling-paling hanya tiga hari. Jadi, kemelaratan tersebut harus dipotong. Jangan membiarkan diri kita begitu saja tanpa ada usaha mengobati. Memotong kemelaratan juga adalah untuk memberikan peluang kepada ibadah-ibadah yang lain. Jika kita sehat, tentunya banyak ibadah yang bisa kita lakukan, serta ibadah tersebut bisa kita lakukan secara khusuk  dibandingkan jika kita berada dalam keadaan sakit.

Rasulullah bersabda:”Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang keluar dari sarangnya pagi-pagi dengan perut lapar dan kembali pada sore harinya dengan perut kekenyangan setiap hari. Dan lenyaplah gunung-gunung penghalang dengan sebab doanya.”

Tawakal yang benar adalah tawakal seperti yang disabdakan oleh Rasulullah itu. Siapa yang bekerja ataupun berikhtiar kemudian berdoa, maka inilah tawakal yang benar. Kalau hal ini konsisten dilakukan, betul-betul fokus kepada Allah dalam menyerahlan dirinya, maka Allah akan menjamin rezeki orang tersebut. Hal ini merupakan suatu mu’jizat, ada misteri di situ, yaitu misteri keikhlasan, misteri tawakal.

Jika kita telah melakukan pekerjaan secara baik dan maksimum, mungkin setelah itu ada perasaan takut dan khawatir. Janganlah takut terhadap atasan kita jika kita telah melakukan sesuatu itu dengan baik dan maksimum, yang penting kita bekerja (berikhtiar) secara baik menurut kemampuan kita. Dalam hal ini, perlu adanya ketenangan. Jangan memberi kesempatan keraguan itu muncul dalam batin kita. Inilah tawakal.

Kita mungkin pernah merasakan tidak percaya diri setelah melakukan sesuatu, padahal apa yang telah kita lakukan itu sudah cukup baik. Ada rasa takut dan bersalah, seakan-akan yang telah kita lakukan itu tidak maksimal. Orang yang selalu digelisahkan oleh keraguannya sendiri, maka itu bukanlah tawakal. Orang yang tawakal, maka dia akan percaya pada dirinya sendiri. Dia telah berikhtiar, selebihnya diserahkan kepada Allah.

Kalau memang standar atasannya melebihi dari apa yang dilakukannya, maka ia akan menyerahkan kepada Allah, sebab Allah hanya menciptakan kadarnya seperti itu. Hingga kita tetap bisa bersikap tenang ketika dimarahi. Kalau memang kita bisa bersikap seperti ini, maka disaat yang lain mungkin atasan kita itu akan meminta maaf kepada kita. Mungkin juga kita akan dicari, karena walaupun terdapat kekurangan pada pekerjaan kita itu, tetapi istiqamahnya ternyata yang dibutuhkan oleh atasan kita, daripada dibandingkan dengan yang lain, sempurna tetapi munafik.

Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita semua. Tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang sangat sempurna menurut standarnya orang lain, apalagi hal itu di luar kemampuan kita. Misalkan, kita atlet karate yang baru menyandang DAN I, tetapi kemudian ditantang untuk melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh atlet penyandang DAN III. Bukanlah tawakal namanya jika kita tetap memaksakan untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan kita.

Tawakal itu jika kita bekerja sesuai dengan apa adanya yang ada pada diri kita, bukan bagaimana seharusnya yang diinginkan oleh atasan kita. Karena, kalau kita selalu terbayangi oleh standar atasan kita ataupun standar  orang lain, maka kita pasti selalu takkan pernah percaya diri. Sebaik apapun pekerjaan kita, ternyata itu masih ada kurangnya, karena di atas langit masih ada langit lagi. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak berperasaan tawakal. Orang yang berperasaan tawakal adalah orang yang apapun terjadi, maka itulah dirinya. Tapi hal ini harus konsisten dilakukan.

Kalaupun ada persoalan, misalkan dimarahi ataupun dicela, pada saat-saat seperti ini kita perlu tuma’ninah sebentar. Endapkanlah sebentar, kemudian kita berdoa kepada Allah bahwa ikhtiar kita itu sudah cukup tetapi atasan kita masih menganggapnya kurang. Kita serahkan diri kita kepada Allah, laa hawlawala quwwata illa billah. Insya Allah nantinya akan ada kemu’jizatan (keajaiban). Namun persoalannya selama ini, bahwa kita jarang sekali mau bertuma’ninah setelah melakukan ikhtiar.

Kita sudah melakukan kerja yang maksimum, tetapi kita dimarahi, seolah-olah kita terpengaruh, bahwa memang kita yang salah. Padahal dengan seperti ini, berarti kita telah menafikan kerja maksimum yang telah kita lakukan menurut kemampuan kita. Wakafkanlah diri kita kepada Allah pada saat-saat seperti itu. Ingatlah Allah sambil kita berpasrah di dalam hati. Yakinlah, bahwa nantinya pasti akan ada jawaban. Tidak akan ada orang yang jatuh jika ia telah berikhtiar dan berdoa lalu menyerahkan dirinya kepada Allah.

Yang perlu selalu diingat,  ada dua istilah, yaitu menyerahkan diri dan pasrah. Kita sudah berikhtiar melakukan yang secara maksimum sesuai dengan kemampuan kita. Kemudian setelah itu serahkan hasil kerja kepada Allah. Setelah itu barulah kita pasrah. Menyerahkan diri berbeda dengan pasrah. Pasrah adalah puncak dari semua usaha yang kita lakukan itu. Jadi, anak tangganya adalah ikhtiar (berusaha), sesudah itu tawakal (menyerahkan), sesudah itu barulah pasrah. Janganlah kita langsung pasrah tanpa melewati dua anak tangga di bawahnya, yaitu tak ada ikhtiar dan tawakal.

Ketika sedang menghadapi suatu masalah, maka ingatlah Allah. Sebab, jika kita sudah dalam genggaman Allah, maka tak seorang pun yang mampu melawannya. Tapi ini harus dilakukan dengan haqqul yaqin, yaitu jangan setengah-setengah.

Janganlah takut dipecat. Justru kalau takut, malahan mungkin akan dipecat. Dalam hal ini, jadilah seperti baja, yaitu istiqamah, sehingga si pemecat akan kalah. Kalau kita menyerahkan diri ini sepenuhnya kepada Allah, maka hukum alam (sunnatullah)nya yang berlaku adalah pasti Tuhan akan melindungi kita. Tapi kalau kita ragu, maka sama saja kita sudah bersikap syirik, yaitu pada satu sisi kita percaya Tuhan, tetapi pada sisi yang lain kita selalu dirundung rasa takut.

Berani membunuh keraguan, itulah yang dicari oleh orang banyak. Tapi sangat sedikit yang bisa mencapai pada tingkatan tersebut. Bagaimanakah membunuh keraguan? Caranya;  harus haqqul yaqin.

Sebagian ulama mengatakan, bahwa semua hamba itu berada dalam rezeki Allah. Akan tetapi sebagian dari mereka itu memakan dengan kehinaan, yaitu seperti meminta-minta. Maksudnya, karakter orang tersebut memang suka meminta-minta. Memang dahulunya ketika miskin kebiasaannya adalah meminta-minta. Tetapi ketika sudah kaya, kebiasaan meminta-minta itu masih juga ada pada dirinya. Lebih ironis lagi, kalau tempat ia meminta itu lebih rendah daripada dirinya sendiri.

Tidak pantas jika ada atasan yang meminta kepada bawahannya, melainkan dialah seharusnya yang memberi kepada bawahannya. Jika ada yang seperti ini, maka yakinlah, apa yang didapatnya itu tak berkah. Sekalipun ia memiliki banyak harta, tetapi jika semuanya itu diperoleh dari meminta-minta, maka tidak berkah.

Rasulullah SAW bersabda: “Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan diatas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah  tangan peminta-minta. “[HR. Muslim No.1715].

Tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah. Meminta itu hanyalah kepada Allah, bukanlah kepada makhluk. Tidak usah menambah rezeki jika jalannya adalah dengan meminta-minta. Mintalah kepada Allah, hindarilah meminta kepada sesama manusia. Meminta yang dimaksud adalah potong kompas (jalan pintas). Orang yang menjadi tempat meminta-minta itu mendapatkan harta dengan bermandikan keringat, tetapi dia seenaknya saja meminta. Meminta tersebut bentuknya juga bermacam-macam: ada yang berbentuk proposal, dan berbagai macam bentuk lainnya. Apalagi kalau memang memintanya itu dilakukan di pinggir jalan, yaitu sengaja mendramatisir dirinya sebagai orang miskin, padahal ternyata dia bukanlah orang yang pantas untuk meminta-minta. Tak ada keberkahan yang didapatkan melalui cara seperti ini. Lebih baik hidup dalam kesederhanaan tetapi memiliki harga diri, dibandingkan hidup berkecukupan tetapi dengan cara menjual harga diri.

Sebagian dari mereka dengan jerih payah dan menunggu seperti para pedagang. Ini lebih baik, karena ada usahanya. Sebagian lagi dari mereka dengan membuka usaha seperti perajin (tukang), jadi lebih terprogram rutinitasnya, prediksi-prediksinya, dengan menggunakan sistem yang rapi, ada tenaga kerja (karyawan), bukan spontanitas dirinya sendiri yang mendapatkan keuntungan, tetapi ini sudah menggunakan sistem yang rapi. Dan sebagian dari mereka itu dengan kemuliaan, seperti para ahli tasawuf yang menyaksikan kepada Allah Yang Maha Mulia, kemudian mereka itu mengambil rezeki mereka dari kekuasaan-Nya, mereka tidak melihat perantaraannya.

Jadilah pedagang yang sufi. Kita boleh banyak memiliki cabang-cabang usaha, tetapi pada sisi lain kita juga harus dekat kepada Allah. Dunianya kaya, akhiratnya juga kaya. Orang yang diberi kemuliaan seperti ini harus lebih banyak bersyukur dibandingkan yang lain. Bersyukurnya tidak hanya sekedar tahmid. Kalau tahmid hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah, sedangkan bersyukur dilakukan dengan disertai tindakan nyata.

Bagaimanakah gaya sufi yang dimaksud? Yaitu menarik manfaat, misalkan memiliki perusahaan, memiliki cabang-cabang usaha yang banyak, pekerjaan di mana-mana, tetapi ia memelihara yang bermanfaat itu. Menyimpan harta dengan baik. Barang siapa yang memperoleh harta, baik itu yang merupakan warisan, ataupun memang hasil kerja dan jerih payahnya, atau dengan sebab apapun juga, maka yang harus dilakukan oleh orang tersebut adalah hanya mengambil sekedar kebutuhannya ketika itu.

Orang kaya yang sufistik seperti inilah modelnya. Ia makan apabila lapar. Jangan mentang-mentang kaya, lalu bersikap boros. Salah satu hikmah kita berpuasa adalah kita tidak lagi terlalu tergila-gila dengan jenis makanan apapun. Ia memakai pakaian sesuai perintah syariat. Kalau tidak ada lagi pakaiannya, barulah ia membeli yang baru. Dan ia membeli tempat tinggal yang sederhana. Bagi mereka, tidak perlu lagi rumah mewah. Dan jika ia memiliki kelebihan, maka akan dibaginya kepada yang membutuhkan. Besar ataupun kecil yang dibaginya itu tergantung dia, karena kondisi kehidupan kita juga harus dihitung. Ia tidak mengambilnya dan tidak pula menimbunnya.

Ingatlah, bahwa yang kita bawa ketika mati hanyalah kain kafan. Menurut Rasulullah, bahwa ada tiga hal yang akan menyertai ketika seseorang meninggal dunia. Tetapi yang paling dicintainya justru itulah yang paling pendek mengantarnya hingga ke kuburan. Yang paling kita cintai adalah istri atau suami kita. Secinta apapun seorang istri terhadap suaminya, atau seorang suami terhadap istrinya, dia tidak akan mau menemani pasangan hidupnya itu di dalam liang lahat.

Sesudah istri, anak, ataupun keluarga, barulah harta. Harta ini masih lumayan, karena masih mau menyertai kita dalam bentuk tiga lapis kain kafan. Tapi yang paling sering kita hindari, justru itulah yang paling lama mengawal kita, bahkan tanpa batas. Itulah yang disebut dengan amal. Jarang sekali amal yang dilakukan itu kita laksanakan dengan nikmat, melainkan lebih banyak membebani kita. Tetapi justru yang paling membebani kita inilah justru yang paling abadi menyertai kita.

Yang paling kita cintai paling hanya sampai di permukaan (atas) kuburan menyertai kita. Harta yang kita miliki paling hanya sampai di dalam kuburan (itupun hanya berbentuk kain kafan). Sedangkan amal yang kita lakukan akan selamanya menyertai kita, bahkan hingga di hari akhir, di padang mahsyar, bahkan hingga di dalam surga.

***