Sabar, Ikhlas, Syukur (1)

Oleh: Imam Trikarsohadi

Sabar, Ikhlas  dan Syukur. Ketiga  kata sifat ini sudah tidak asing bagi umat Islam. Ketiga kata ini memiliki makna yang baik. Dari sudut mana saja makna ketiga kata ini dipahami, tetap membawa setiap orang kembali ke pemahaman tunggal.

Demikian baiknya makna dari masing-masing kata, tak jarang ada orang tua yang memilih menggunakannya untuk menamai anaknya; Sabar,  Ikhlas, dan Syukur. Ketika dipilih menjadi nama -nama orang, pasti pemberi nama berharap pengguna/pemiliknya memiliki sifat dari makna kata itu. Inilah yang dikatakan bahwa setiap nama yang diberikan orang tua kepada anaknya, didalamnya terkandung harapan dan doa.

Dalam keseharian, kata sabar, ikhlas  dan syukur acapakali dipergunakan orang sebagai pernyataan perasaan dan sikap atas sesuatu, dan/ atau  orang lain. Orang pun dengan mudah memahami maksud penggunaannya. Hingga tak heran, kata-kata tersebut pada kenyataannya menjadi pembenaran atas sesuatu. Pada lain hal, bisa menjadi gambaran kepribadian orang yang mengucapkannya. Terkadang juga digunakan sebagai kata tuntutan untuk sesuatu atau pernyataan nasehat dan bentuk dukungan moril kepada orang lain.

Untuk orang yang ditimpa musibah dan mengalami kesulitan hidup, kata sabar digunakan untuk memberikan moril dukungan kepadanya; untuk orang yang merasa kehilangan akan sesuatu yang berarti dalam hidupnya, kita akan menggunakan kata ikhlas untuk mengingatkannya; dan kata syukur digunakan kepada seseorang yang menerima suatu rezeki dan karunia.

Menyimak maksud dan makna dari ketiga kata ini dalam batasan “Jalan Menuju Allah”, maka, ketiga kata ini tidak bisa di bolak-balik urutannya (sesuai judul buku ini). Kata sabar tetap menjadi kata sifat pertama, kemudian diikuti kata ikhlas, dan terakhir kata “Syukur.” Kandungan hikmah dan tujuan dari masing-masing kata tersebut ditempatkan sesuai urutannya oleh para ulama dan fuqaha. Inilah sebagian pentahapan sifat menuju kepada Allah.

Saat saya menyusun dan mengedit buku yang merupakan ide, gagasan, wawasan dan amaliyah sahabat/saudara saya; Pak SISWADI, saya merasa sedang menyelami kedalaman “samudera”. Semakin banyak Pak SISWADI menyampaikan bahan-bahan untuk dirancangbangun dan/ atau amaliyah yang nampak, maka saya merasa; “samudera” ini kian  dalam saja, dan tak bertepi.

Dan dititik itulah-- terasa ada sentakan kesadaran bahwa ketiga sifat tersebut wajib dimiliki setiap muslim. Cara memilikinya sudah tentu dengan melakukan kewajiba sebagai hamba Allah dan umat Rasulullah. Mendirikan sholat adalah sarana utama untuk menghadirkan ketiga sifat ini. Tanpa sholat, ketiga  sifat ini akan kering makna, hanya akan menjadi bahasa lisan semata. Kalau pun ketiganya dipahami, akan terjadi semacam problem serius untuk  mewujudkannya sebagai amal nyata sehari-hari.

Intinya, setelah mendirikan sholat wajib secara paripurna, selanjutnya adalah mengamalkannya secara konkrit.  Dalam persepsi saya, menangkap sinyal ini dari gerak laku Pak SISWADI sehari-hari.

Kemauan dan kesadaran. Inilah makna pesan dari senyawa antara  kata sabar, ikhlas dan syukur.  Meski memang, untuk mendapatkan cinta dari Allah SWT, tidak semata diisi sifat sabar, ikhlas dan syukur, sebab, ada deretan sifat lainnya seperti Wara’, Amal Zariah, Dzikirullah, serta Islam, Iman, Ikhsan.

Menurut Al-Quran, orang mukmin yang benar-benar bertakwa adalah orang yang bisa bersabar ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan. Lalu,  mampu bersyukur ketika mendapatkan berbagai macam kenikmatan, sehingga mampu mempergunakan untuk sesuatu yang diridhoi Allah SWT, dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya umat manusia.

Ihwal kehidupan itu sendiri,  manusia selalu saja dihadapkan dengan pelbagai cobaan, yang acapkali  datang tak terduga, silih berganti menerpa dan menerjang; lahir maupun batin.  Apa boleh buat, itulah kodrat kehidupan.

Jika demikian adanya, maka,  ujian dan cobaan di dunia merupakan sebuah keharusan, siapa pun tidak bisa terlepas darinya. Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan merupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman kepada Allah SWT.

Artinya pula, ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.

Sikap sabar, ikhlas dan syukur, sangat kita butuhkan dalam menghadapi pelbagai cobaan dan ujian, agar kita tidak berburuk sangka terhadap segala ketentuan Allah SWT. Sungguh tidak bermartabat bila membiasakan diri berburuk sangka kepada sesama manusia, apalagi terhadap Allah SWT.

Sebab itu, dalam keadaan apapun, seorang mukmin harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah, serta meyakini bahwa berbagai musibah dari Allah SWT adalah tahapan ujian atas kualitas keimanan kita.

Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi ujian atau cobaan, sebagaimana dalam firman-Nya :   “…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)

Sebab itu pula, kita dilarang membatasi apa yang dimaksud dengan kesabaran, apalagi  memeta-metakanya, karena Allah SWT tidak pernah memiliki dan berkendak untuk membatasi esensi kesabaran.

Ada bebagai bentuk kesabaran sebagaimana firman Allah SWT yang tertera didalam Al-Qur’an, diantaranya sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena takut ancaman Allah. Tentu akan lebih baik jika meninggalkan kemaksiatan karena malu kepada Allah.  Sebab, jika  kita mampu muraqabah (meyakini dan merasakan Allah sedang melihat dan mengawasi kita), tentu, kita akan malu    melakukan maksiat, karena kita menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita kerjakan. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya: ”... Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS.Al Hadid :4)

Kesabaran berikutnya berupa ketaatan melaksanan semua ketetapan Allah SWT secara konsisten. Sebab, konsistensi akan memunculkan keikhlasan dalam mengerjakannya dan memperbaikinya dalam menjalankan ketaatan, tujuannya hanya agar amal ibadah  yang kita dilakukan diterima Allah-- semata-mata ikhlas karena Allah SWT.

Jadi, wajib hukumnya untuk terus menerus meningkatkan kadar dan kualitas kesabaran kita selama hidup, dan jika ujian dan cobaan yang datang, sepatutnya kita melakukan instrospeksi diri dosa-dosa yang telah kita lakukan. Sebab, ujian dan cobaan itu bisa datang karena dosa-dosa kita .

Kemudian, kita wajib menyakini bahwa Allah selalu ada bersama kita. Dan Allah telah memberikan jaminan untuk kita dalam surah Al Baqarah ayat 286, yang artinya bahwa  “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” Dan Allah cinta dan ridha kepada orang yang sabar.  Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya :                                                                                         

“Dan sabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ” (QS. Al Anfal : 46).

              “…Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS.Al Imran : 146)

Selain itu, jika kita bersabar, maka akan datang ridho Allah, karena ridho Allah SWT terdapat dalam kesabaran kita, terhadap segala ujian dan ketentuan takdir-Nya, yang acapkali kurang kita sukai.

Sabar memiliki kedudukan tinggi dan  mulia dalam pandangan Allah SWT. Oleh karena itu, Al Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sabar setengah dari keimanan dan setengahnya lagi adalah syukur. Sabar juga termasuk ibadah dari ibadah-ibadah yang Allah wajibkan kepada hamba-Nya, dan sabar menduduki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Semoga buku  ini bisa bermanfaat untuk kita semua, dan kita menjadi hamba yang memiliki hati serta ketakwaan kepada Allah SWT. Sejatinya, kekurangan dan kealfaan adalah bagian dari kodrat hidup kita yang wajib diperbaiki terus menerus, dan kesempurnaan itu adalah milik Allah SWT.

***