Merenung dari Kobra

Oleh: Imam Trikarsohadi.

Puluhan ular kobra menyerbu dan berpindah tempat kedalam sebuah pabrik di Cikarang, Bekasi, Kamis 3 September 2015. Saya yang ikut berkeliling dengan dua pawang ular guna memindahkan para ular, tergerak untuk tahu sebaba musabab ular-ular itu nekad masuk ke area yang sesungguhnya berbahaya baginya sebab banyak zat kimia di dalam pabrik.

Ternyata ada tiga sebab ular-ular itu nekad masuk ke lingkungan pabrik; (1).  Cuaca panas terik yang panjang; (2). Lahan kosong tempat mereka bersarang terusik oleh pembangunan dan pembersihan rumput dan alang-alang yang mengering;(3). Bahan makanan ular-ular, seperti tikus, kodok, kadal dan cicak telah lebih dulu berimigrasi ke dalam lingkungan pabrik.

Jelas sudah bagi saya bahwa riwayat para ular kobra ini sama seperti riwayat kehidupan makhluk lainnya yang kadang bermimpi indah dan acapkali  mendapati kenyataan sial padangkalan  — itu juga yang menyebabkan migrasi dan pengungsian sekawanan ular kobra.

Ular-ular itu sebagaimana juga manusia butuh penghasilan, makanan, tempat yang aman dan nyaman serta ada kejelasan masa depan.  Tanpa itu  semua adalah kelaziman jika kemudian pindah tempat, pindah pilihan, pindah koalisi dan mungkin seperti syair sebuah lagu;” ...pindah ke lain hati.”   

Jika sudah demikian, maka apa yang disebut ethnie --- perasaan atau kesadaran yang kuat bahwa kita punya persamaan, gampang bubar. Lalu,

solidaritas bersama dan label kolektif pun sekarat kadal. Apa sebab?, jawabnya karena tidak ada lagi pengharapan, tak ada lagu fokus bersama yang dianggap bernilai guna dan berhasil guna. Soal ini sangat sensitif, sebab bila ada pemerintahan yang gagal memberikan manfaat kepada rakyat terkait pengelola kesejahteraan dan penjagaan keamanan, maka ia gampang terjungkal.

Sebab apa?, karena akan bertambah jumlah orang yang merasa kesepian dan  marah secara diam-diam. Apa boleh buat, kehidupan tak menyisahkan banyak orang yang mampu mengelola rasa sakit dan amarah.

Sebab itu pula, saya menandaskan kepada pawang ular agar sekawanan kobra tidak bentrok dengan manusia (karyawan pabrik), maka cukup  diamankan dan dipindahkan saja ke pengelola kebun binatang, jangan pakai cara yang bikin sakit kobra.

Apa boleh buat, tiap riwayat kehidupan makhluk hidup punya beban sejarah masing-masing, yang berlainan satu dengan lainnya, tapi intinya tetap saja beban, atau  juga sebuah trauma,  atau sebuah ketidaksabaran, dan uniknya dibalik semua itu tetap saja tersedia sebuah harapan. (*)