Indonesia Desak Singapura Usut Penjualan TKI via Daring

Jakarta (885.news.com) -- Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) meminta Singapura untuk menindaklanjuti penemuan kasus perdagangan orang berupa penjualan asisten rumah tangga yang diduga merupakan tenaga kerja Indonesia (TKI). Kasus ini terjadi di platform jual beli barang baru dan bekas yang bermarkas di Singapura, Carousell.

KBRI Singapura menyatakan bahwa pihaknya sudah melayangkan pernyataan tertulis kepada Kementerian Tenaga Kerja Singapura. Mereka juga bakal mengirimkan nota diplomatik Kementerian Luar Negeri Singapura untuk menyelesaikan kasus ini pada Senin 17 September 2018.

"KBRI sudah mengetahui kejadian ini. Besok pada hari kerja pertama, KBRI akan mengirimkan nota diplomatik kepada Kemlu Singapura yang menyampaikan bahwa kejadian serupa sudah terjadi beberapa kali di Singapura serta permintaan agar dilakukan investigasi secara menyeluruh terhadap kasus ini," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal, Minggu 16 September 2018.

Di laman Carousell, ditemukan akun dengan nama @maid.recruitment yang mengunggah beberapa profil TKI asal Indonesia. Beberapa profil bahkan sudah mendapatkan tanda telah laku terjual.

Kementerian Tenaga Kerja Singapura sebelumnya sudah menyatakan akan mengambil langkah untuk memulai investigasi terhadap penjualan pembantu di laman Carousell.

"Kami mengetahui ada kasus pekerja rumah tangga asing yang dijual secara tidak pantas di situs jual beli online, Carousell. kami menginvestigasi kasus ini, dan sudah meminta agar penjualan itu dihapus," tulis Kementerian Tenaga Kerja Singapura melalui sebuah unggahan di akun Facebook resmi milik mereka, pada Jumat 14 September 2018.

Kementerian Tenaga Kerja Singapura menyatakan penjualan itu diduga melanggar Undang-Undang Tenaga Kerja dan dapat dikenai sanksi berupa denda 80 ribu dolar Singapura dan atau penjara hingga dua tahun.

Sementara itu, perwakilan dari Carousell menyatakan sudah menangguhkan akun dan menghapus daftar penjualan pembantu itu dari laman mereka. Carousel menyebut perdagangan manusia tidak diizinkan di laman miliknya.

"Setiap tampilan atau berbagi biodata pribadi individu sangat dilarang, karena ini melanggar pedoman kami. Dalam hal ini, kami membantu pihak berwenang dengan penyelidikan mereka," kata perwakilan dari Carousell dikutip dari Asia One. (mus)